Kamis, 29 Agustus 2019


TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
tentang
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
 






Oleh:
RENI ASMONU UTAMI
1620176

DOSEN PEMBIMBING
YESSI RIFMASARI, M. Pd.


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS

A.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Untuk dapat mengetahui dan mengatasi hambatan- hambatan maka kita harus berfikit mengenai faktor- faktor apa saja yang dapat mempengaruhi suatu proses belajar dan pembelajaran. Setelah mengetahui berbagai prinsip pembelajaran, kita dapat menganalisa lebih jauh mengenai factor- faktor yang dapat berpengaruh pada saat proses belajar. Di prinsip-prinsip pembelajaran kita mengetahui bahwa belajar membutuhkan proses, interaksi, motivasi, lingkungan, dll.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1.      Faktor Individu/Internal
a.    Keadaan jasmani.
Apabila seorang individu berada dalam keadaan yang kurang sehat maka proses belajar akan sedikit terhambat. Berbeda halnya dengan seseorang yang dalam keadaan sehat akan dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih efektif. Maka dari itu, guru yang mengetahui ada sisiwanya yang sakit, sebaiknya menyuruh sisiwanya untuk beristirahat.
b.    Keadaan fungsi jasmani.
Ini berkaitan dengan fungsi alat tubuh seseorang, seperti pengelihatan, pendengaran, lisan, dll yang keberadaannya sangat berpegnaruh saat proses belajar.
c.    Keadaan psikologis.
1)   IQ atau kecerdasan siswa..
2)   Motivasi Belajar siswa.
3)   Minat dan Bakat.
2.      Faktor Eksternal
a.     Lingkungan, meliputi:
1)   Lingkungan sekolah
a)      Lingkungan Fisik: Sekolah yang baik seharusnya dijauhkan dari kebisingan dan polusi.
b)      Lingkungan sosial: Tata letak sekolah juga harus diperhatikan. Sebaiknya tidak didepan pasar, mall, tempat karaoke, atau tempat hiburan yang lain.
2)      Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa
3)      Lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa.
b.    Faktor tujuan sekolah
c.     Materi yang dipelajari. Meliputi,
1)      Kejelasan materi
2)      Kemenarikan (media, strategi, dll)
3)      Sistematika pembelajaran materi
4)      Jenis materi (menjelaskan sesuai koteks)
5)      Faktor instrumen (kelengkapan, kuantitas, kualitas, kesesuaian)
6)      Tingkat kesulitan materi
d.       Pengajar/guru.
Adapun peran guru adalah sebagai pengajar yang ahli, motivator, mengelola siswa dan lingkungan belajar, sebagai sosok yang mempengaruhi anak didik, memberikan nasihat pada anak didik, dan mempermudah anak didik dalam belajar.
1)      Faktor kondisi fisik
2)      Faktor Kondisi Psikis

B.     MENGATUR KONDISI KELAS DAN IKLIM BELAJAR SISWA
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan 6 cara sebagai berikut;
1.      Penciptaan lingkungan fisik kelas yang kondusif
2.      Penataan ruang belajar sebagai sentra belajar
3.      Penciptaan atmosfer belajar yang kondusif
4.      Penetapan strategi pembelajaran dan
5.      Pemanfaatan media dan sumber belajar
6.      Penilaian hasil belajar.
Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang menyenangkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari, gambar-gambar afirmasi, pajangan hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat peraga, media pembelajaran dan jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa. Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku spiritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
C.    KONDISI YANG MEMPENGARUHI IKLIM BELAJAR 
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar mengajar dan penggunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa. Keseluruhan aspek yang dijelaskan di atas didesain sedemikian rupa dalam proses pembelajaran.
Yang menjadi penekanan dalam penciptaan atmosfer belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana pembelajaran yaitu:
1.      Menyenangkan dan mengasyikkan
Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek afektif perasaan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif. Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:
a.       Bersikap ramah
b.      Membiasakan diri selalu tersenyum
c.       Berkomunikasi dengan santun dan patut
d.      Adil terhadap semua siswa
e.       Senantiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku siswanya.
f.       Menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.
2.      Mencerdaskan dan menguatkan
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multipel intelligence). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih:
a.       Memilih tema-tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
b.      Teknik-teknik penciptaan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.
c.       Memberikan pemahaman yang cukup akan pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.
d.      Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.

DAFTAR RUJUKAN

Slameto. 2003. Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit Alfabeta Slameto
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada


Selasa, 27 Agustus 2019


TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
tentang
MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA
 






Oleh:
RENI ASMONU UTAMI
1620176

DOSEN PEMBIMBING
YESSI RIFMASARI, M. Pd.



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019

MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Kelas merupakan suatu tempat anak belajar untuk mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman serta pembentukan pribadi yang baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di sekolah diharapkan harus intens untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas terdiri dari siswa yang dapat ditinjau dari cara belajar mereka, karakter siswa, hubungan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi.
Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan - kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Salah satu manajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya kepada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal.
 Hasil belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan baik, selain itu dapat mengembangkan inisiatif (belajar sendiri). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari bagaimana seorang guru mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, tidak dapat di pungkiri bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan kecerdasan siswa yang berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan tersebut maka akan berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas.
Lingkungan fisik kelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Lingkungan kelas yang kondusif, nyaman, menyenangkan, dan bersih berperan penting dalam menunjang keefektifan belajar. Lingkungan juga akan mempengaruhi mental siswa secara psikologis dalam menerima informasi dari guru di dalam kelas. Bahkan, dengan menggunakan strategi dan metode tertentu siswa dapat menerima stimulus dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas untuk membantu siswa mengejar prestasinya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan kepada siswa, penyusunan meja dan kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima akses informasi dengan baik dan merata, memberikan aroma tertentu yang membangkitkan semangat dan 5 motivasi, menata bunga dan berbagai tumbuhan yang akan memberikan kesegaran, memilih warna cat dinding yang sesuai dengan kebutuhan untuk sebuah ruang kelas, memasang poster-poster yang berisikan kalimat-kalimat afirmasi yang memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi seseorang yang berprestasi di kelasnya.

B.     KEBIJAKAN PENANGANAN MASALAH  DALAM  KELAS
Sekolah merupakan tempat terbaik anak untuk berinteraksi, disekolah pula anak memasuki masa peralihan, dalam konteks ini kemampuan siswa untuk memilah pergaulan antara yang baik dengan yang buruk dipengaruhi oleh keluarganya, dan bagaimana posisinya juga sifat anggota keluarganya
Belajar adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar. Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan formal dan non formal. Salah satu lembaga pendidikan formal yg umum di indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan belajar mengajar tersebut terjadi di dalam kelas. Tujuan belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual.
           Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
1.      Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok
2.      Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu
3.      Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud. 
C. MACAM-MACAM PERMASALAHAN DALAMAMANJEMEN KELAS

a.       Siswa yang mengalami keterlambatan akademik, yakni siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi tetapi tidak menggunakan kemampuannya secara optimal.
b.      Siswa yang kekurangan motivasi dalam belajar, yakni keadaan atau kondisi siswa yang kurang bersemangat dalam belajar seperti jera dan bermalas-malasan
c.       Siswa yang bersikap dan memiliki kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya
1.      Kurangnya kesatuan,di tandai dengan konflik-konflik antara individu dan sub kelompok. Misalnya, konflik antara jenis kelamin dan atau ras dengan murid dari jenis kelamin atau ras yang lain. Suasana kelas seperti ini ditandai dengan konflik,permusuhan,ketegangan. Murid merasa tidak puas dengan kelompok dan berpendapat kelompok tidak menarik. Akhirnya murid tidak saling mendukung.
a.       Mengidentifikasi Masalah
 Mengidentifikasikan masalah ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah :
1)    Merasakan adanya masalah
Merasakan adanya masalah dengan cara bertanya pada diri sendiri (merefleksi) mengenai kualitas pembelajaran yang selama ini di capai. Guru mengangap adanya masalah kalau ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi.
Contoh pertanyaan adanya masalah:
a)    Apakah kopetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?
b)    Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
c)    Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai?
d)    Apakah perolehan pembelajaran cukup tinggi?
e)    Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
f)      Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovasi tertentu?
2)    Megidentifikasi masalah
a)    Masalah-masalah yang dihadapi tersebut dicari ciri masalahnya untuk dicari masalah mana yang layak dipecahkan terlebih dahulu.
b)    Tahap ini harus menemukan gagasan awal mengenai permasalahan actual yang terkait dengan manajemen kelas, iklim belajar, PBM, sumber belajar, dan perkembangan personal.
Cara mingidentifikasi masalah :
1.    Menulis semua halyang terkait dengan pembelajaran yang dirasakan perlu memperolehperhatian untuk menghindari dampak yang tidak diharapkan.
2.    Memilah dan mengklasifikasikan masalah sesuai dengan jenisnya dan menggidentifikasi frekuensi timbulnya masalah.
3.    Mengurutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya untuk ditindaklanjuti
4.    Peneliti memilih permasalahan yang urgen untuk dipecahkan.


D.    SOLUSI DALAM MENGATASI PERMASALAH MANAJEMEN KELAS

Solusi dalam Mengatasi Permasalahan Manajemen Kelas Dalam menghadapi masalah-masalah pengelolaan kelas guru dapat menerapkan berbagai pendekatan. Pendekatan pertama ialah dengan menerapkan sejumlah “larangan dan anjuran” misalnya:
a.       Jangan menegur siswa di hadapan kawan-kawannya.
b.      Dalam memberikan peringatan kepada siswa janganlah mempergunakan nada suara yang tinggi.
c.       Bersikaplah tegas dan adil terhadap semua siswa
d.      Jangan pilih kasih
e.       Sebelum menghukum siswa, buktikanlah terlebih dahulu bahwa siswa itu bersalah
f.       Patuhlah pada aturan-aturan yang sudah anda tetapkan.

Pendekatan “larangan dan anjuran” diatas tampaknya mudah, namun karena tidak didasarkan pada teori atau prinsip-prinsip tertentu pada umumnya kurang dapat dilaksanakan secara mantap. Masing-masing perintah atau larangan itu dapat diterapkan atas dasar generalisasi masalah-masalah pengelolaan kelas tertentu. Disamping itu, guru yang melaksanakan perintah dan larangan itu hanya bersikap reaktif terhadap masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul. Jangkauan tindakan yang reaktif inipun amat sempit, yaitu hanya terbatas pada masalah-masalah yang muncul sesewaktu saja. Padahal dari guru diharapkan tindakan-tindakan yang menjangkau kemungkinan timbulnya masalah-masalah yang dapat muncul di masa depan, sehingga timbulnya masalah-masalah itu dapat dicegah, atau kalau toh masalah-masalah itu timbul juga intensitasnya tidak begitu besar dan dapat ditanggulangi secara tepat.
Pendekatan “perintah dan larangan” itu bersifat absolut dan tidak membuka peluang bagi diambilnya tindakan-tindakan yang lebih luwes dan kreatif. Pendekatan “resep” ini hanya mengatakan: “Jika terjadi masalah itu, lakukanlah itu atau itu atau itu”. Guru-guru yang hanya mengandalkan penerapan pendekatan seperti itu dianggap kurang memanfaatkan potensinya sendiri dan kurang mampu menyelenggarakan pengelolaan kelas secara efektif.




















DAFTAR PUSTAKA

Koes, Partowisastro. 1982. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2.Erlangga. Jakarta.
Siregar, Eveline. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Universitas Negeri Jakarta. Jakarta.
Zahara, Idris. 1992. Pengantar Pendidikan 1. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.


MANAJEMEN KELAS DI SD Disusun Oleh : Reni Asmon Utami (1620176) Prodi : PGSD DOSEN PEMBIMBING : YESSI RIFMASARI, M.P...