Selasa, 27 Agustus 2019

TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
tentang
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
 






Oleh:
RENI ASMONU UTAMI
1620176

DOSEN PEMBIMBING
YESSI RIFMASARI, M. Pd.



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019




PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS

A.    PENGERTIAN PRINSIP DALAM MANAJEMEN KELAS
prinsip dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang dimiliki sebagai pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif. Setidaknya ada enam prinsip yang harus dipahami oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan manajemen kelas yang efektif, yaitu sebagai berikut:
1.      Hangat dan antusias
Guru sebagai seorang manajer kelas dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar hendaknya harus dapat memunculkan dua tahap, yaitu sikap hangat dan antusias.. Sikap hangat akan sangat mungkin dimunculkan apabila seorang guru mau dan mampu menjalin ikatan emosional dengan peserta didik.
2.      Tantangan
Kemampuan guru untuk memberikan tantangan kepada peserta didiknya dapat menngkatkan semangat belajar mereka sehingga mereka sehingga hal itu dapat mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini dibutuhkan kecakapan dari seorang guru sebagai manajer kelas agar dapat mengemas mata pelajaran yang diajarkan supaya dapat memunculkan perasaan tertantang pada diri peserta didik.
3.      Keluwesan
Keluwesan berasal luwes. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, luwes diartikan sebagai sesuatu yang pantas, menarik, tiak kaku, tidak canggung, dan mudah menyesuaikan. Sementara keluwesan adalah perbuatan yang luwes. Keluwesan dalam konteks manajemen kelas merupakan keluwesan perlaku guru untuk mengubah metode mengajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi kelas untuk menecegah kemungkinan munculnya gangguan belajar pada peserta didik serta untuk menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif dan efektif.
4.      Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya mengajar dan mendidik menekankan pada hal-al yang positif dan menghindari pemusatan peserta didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan oleh guru terhadap perilaku peserta didik yang positif. Penekanan tersebut daat dilakukan oleh guru dengan memberikan penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya kegiatan belajar-mengajar.
5.      Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari kegitan manajemen kelas adalah menjadikan peserta didik dapat mengembangkan disiplin pada diri sendiri sehingga tercipta iklim belajar yang kondusif di dalam kelas. Itulah sebabnya guru diharapkan dapat memotivasi peserta didiknya untuk melaksanakan disiplin diri dan menjadi teladan dalam pengendalian diri serta pelaksanaan tanggung jawab. Secara etimologi, kata disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu disciplina dan discipulus yang berari perintah dan peserta didik. jadi, disiplin adalah perintah yang diberikan oleh guru kepada peserta didiknya. Perintah tersebut diberikan kepada peserta didik agar ia mau melakukan apa yang diinginkan oleh guru.
Oleh karena itu, mendidik peserta didik du/ disiplin harus dilakukan sepanjang waktu. Salah satu metode yang efektif adalah dengan menggunakan metode keteladanan. Guru harus bisa menjadi model bagi peserta didiknya dengan memberikan contoh perilaku yang positif, baik di kelas, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Misalnya, guru datang 30 ke kelas tepat waktu, guru berpakaian sopan, berbicara dengan bahasa yang santun, dan lain sebagainya.

B.     PERMASALAHAN DALAM PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1.      Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang.
2.      Masalah Kelompok
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.       Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.      Kurang mampua mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c.       Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d.       Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.         Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
f.       Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
g.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.

C.    KEBIJAKAN TENTANG PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Pemecahana masalah merupakan fungsi intelektual paling kompleks dari semua fungsi intelektual tinggi manusia atau proses kognitif yang memerlukan kontrol dan keterampilan fundamental
Adapun langkah-langkah pemecahan masalah atau tahapan pemecahan masalah  antara lain :
a.       Mengidentifikasi dan mendefinisikan  Masalah
Proses memecahkan masalah sebaiknya diawali dengan mendefinisikan masalah yang ingin dipecahkan. kita perlu memutuskan apa yang ingin kita capai dan menuliskannya. Langkah menuliskan masalah  memaksa kita untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya kita juga menuliskan cara untuk memecahkan merumuskan apa sesungguhnya yang ingin kita capai.
b.      Menganalisis Masalah
Langkah berikutnya dalam proses menganalisis,  di mana kita sesungguhnya sekarang? Apa yang ingin kita capai? Apa sesungguhnya yang menyebabkan kitapunya masalah? Memahami “dari mana masalah itu datang?” Apakah masalah itu relevan dengan perkembangan kehidupan  saat ini?. Apakah kita memiliki perangkat kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi solusi?  atau Tahukah kita bahwa ide itu dapat dikerjakan? Apakah kita dapat memprediksi waktu yang dihabiskan untuk memecahkan masalah itu? Berapa lama?
c.       Merumuskan Alternatif Solusi Pemecahan Masalah
Bila telah menemukan masalah yang sebenarnya ingin Anda pecahkan, maka langkah selanjutnya pikirkan apa yang harus “ Anda lakukan?” Berpa banyak kemungkinannya?   Pada tahap ini Anda harus berkonsentrasi untuk menghasilkan banyak solusi. Semakin banyak pilihan semakin banyak informasi yang Anda dapatkan. 




















DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, 2005, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Rosda Karya.
Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar,Jakarta: PT Rineka
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,  Jakarta : PT Rineka Cipta, 1990

5 komentar:

MANAJEMEN KELAS DI SD Disusun Oleh : Reni Asmon Utami (1620176) Prodi : PGSD DOSEN PEMBIMBING : YESSI RIFMASARI, M.P...