TUGAS
MANAJEMEN KELAS di SD
tentang
PRINSIP-PRINSIP
MANAJEMEN KELAS
![]() |
Oleh:
RENI ASMONU UTAMI
1620176
DOSEN PEMBIMBING
YESSI RIFMASARI,
M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
PRINSIP-PRINSIP
MANAJEMEN KELAS
A. PENGERTIAN PRINSIP DALAM MANAJEMEN KELAS
prinsip dasar pengelolaan kelas adalah
pegangan atau acuan yang dimiliki sebagai pokok dasar berfikir atau bertindak
bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses
pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dapat bekerja
dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif. Setidaknya ada
enam prinsip yang harus dipahami oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan manajemen
kelas yang efektif, yaitu sebagai berikut:
1.
Hangat dan antusias
Guru sebagai seorang manajer kelas dalam melaksanakan kegiatan
belajar-mengajar hendaknya harus dapat memunculkan dua tahap, yaitu sikap
hangat dan antusias.. Sikap hangat akan sangat mungkin dimunculkan apabila
seorang guru mau dan mampu menjalin ikatan emosional dengan peserta didik.
2.
Tantangan
Kemampuan guru untuk memberikan tantangan kepada peserta didiknya dapat
menngkatkan semangat belajar mereka sehingga mereka sehingga hal itu dapat
mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini
dibutuhkan kecakapan dari seorang guru sebagai manajer kelas agar dapat
mengemas mata pelajaran yang diajarkan supaya dapat memunculkan perasaan
tertantang pada diri peserta didik.
3.
Keluwesan
Keluwesan berasal luwes. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, luwes
diartikan sebagai sesuatu yang pantas, menarik, tiak kaku, tidak canggung, dan
mudah menyesuaikan. Sementara keluwesan adalah perbuatan yang luwes. Keluwesan
dalam konteks manajemen kelas merupakan keluwesan perlaku guru untuk mengubah
metode mengajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi kelas untuk
menecegah kemungkinan munculnya gangguan belajar pada peserta didik serta untuk
menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif dan efektif.
4.
Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya mengajar dan mendidik menekankan pada hal-al yang positif dan
menghindari pemusatan peserta didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada
hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan oleh guru terhadap perilaku
peserta didik yang positif. Penekanan tersebut daat dilakukan oleh guru dengan
memberikan penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari
kesalahan yang dapat mengganggu jalannya kegiatan belajar-mengajar.
5.
Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari kegitan manajemen kelas adalah menjadikan peserta didik
dapat mengembangkan disiplin pada diri sendiri sehingga tercipta iklim belajar
yang kondusif di dalam kelas. Itulah sebabnya guru diharapkan dapat memotivasi
peserta didiknya untuk melaksanakan disiplin diri dan menjadi teladan dalam
pengendalian diri serta pelaksanaan tanggung jawab. Secara etimologi, kata
disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu disciplina dan discipulus yang berari
perintah dan peserta didik. jadi, disiplin adalah perintah yang diberikan oleh
guru kepada peserta didiknya. Perintah tersebut diberikan kepada peserta didik
agar ia mau melakukan apa yang diinginkan oleh guru.
Oleh karena itu, mendidik peserta didik du/ disiplin harus dilakukan
sepanjang waktu. Salah satu metode yang efektif adalah dengan menggunakan
metode keteladanan. Guru harus bisa menjadi model bagi peserta didiknya dengan
memberikan contoh perilaku yang positif, baik di kelas, di sekolah, maupun di
lingkungan masyarakat. Misalnya, guru datang 30 ke kelas tepat waktu, guru
berpakaian sopan, berbicara dengan bahasa yang santun, dan lain sebagainya.
B. PERMASALAHAN DALAM PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang
bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa
masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan
amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan
antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin
mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi
tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1.
Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa
tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu
memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika
seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga
maka dia akan bertingkah laku menyimpang.
2.
Masalah Kelompok
Dikenal adanya tujuh
masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.
Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan
(konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori
kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak
kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan
dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan
kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang
mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.
Kurang mampua mengikuti peraturan
kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi
aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul,
yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini
ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa
diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu
semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing;
dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c.
Reaksi negatif terhadap sesama anggota
kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang
bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima
oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau
anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap
“menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan
kelompok.
d.
Penerimaan kelas (kelompok) atas
tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi
apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang
bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang
amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat
gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah
kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok
kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.
Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan,
berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota)
lainnya saja.
f.
Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja,
dan tingkah laku agresif atau protes.
g.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila
kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau
perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan,
pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan
lain-lain.
C. KEBIJAKAN TENTANG PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Pemecahana masalah merupakan fungsi
intelektual paling kompleks dari semua fungsi intelektual tinggi manusia atau
proses kognitif yang memerlukan kontrol dan keterampilan fundamental
Adapun langkah-langkah pemecahan
masalah atau tahapan pemecahan masalah antara lain :
a.
Mengidentifikasi dan mendefinisikan
Masalah
Proses memecahkan masalah sebaiknya diawali dengan mendefinisikan masalah
yang ingin dipecahkan. kita perlu memutuskan apa yang
ingin kita capai dan menuliskannya. Langkah menuliskan masalah
memaksa kita untuk berpikir tentang apa yang
sebenarnya kita juga menuliskan cara untuk memecahkan merumuskan apa
sesungguhnya yang ingin kita capai.
b.
Menganalisis Masalah
Langkah berikutnya dalam proses menganalisis, di
mana kita sesungguhnya sekarang? Apa yang ingin kita capai?
Apa sesungguhnya yang menyebabkan kitapunya masalah? Memahami “dari mana
masalah itu datang?” Apakah masalah itu relevan dengan perkembangan kehidupan
saat ini?. Apakah kita memiliki perangkat kriteria yang digunakan
untuk mengevaluasi solusi? atau Tahukah kita bahwa ide itu
dapat dikerjakan? Apakah kita dapat memprediksi waktu yang dihabiskan
untuk memecahkan masalah itu? Berapa lama?
c.
Merumuskan Alternatif Solusi Pemecahan
Masalah
Bila telah menemukan masalah yang sebenarnya ingin Anda pecahkan, maka
langkah selanjutnya pikirkan apa yang harus “ Anda lakukan?” Berpa banyak
kemungkinannya? Pada tahap ini Anda harus berkonsentrasi untuk
menghasilkan banyak solusi. Semakin banyak pilihan semakin banyak informasi
yang Anda dapatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, 2005, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Rosda Karya.
Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar,Jakarta: PT
Rineka
Suharsimi
Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta
: PT Rineka Cipta, 1990

Materi sangat bermanfaat kak
BalasHapusOke mksh ya
HapusTerimakasih sudah berbagi kak
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapusiya smoga brmnfaat
BalasHapus